GUDANG INFO TAHAP 1 bersama ASBAR
Selasa, 15 Mei 2012
Pendidikan (Tidak) untuk Rakyat Miskin
“ MISKIN Kok Mau Sekolah..!” Sekolah dari Hongkong…!!! , itu adalah judul sebuah novel karya Wiwid Prasetyo. Judul yang menggambarkan realitas pendidikan Indonesia saat ini. Berbagai masalah, mulai dari minimnya sarana dan prasarana belajar, rendahnya kualitas pengajar, kurikulum yang tak sesuai kebutuhan, hingga lulusan yang tidak “siappakai”, menjadi persoalan yangtak kunjung selesai.
Hal yang paling memprihatinkanadalah belum terakomodasiya rakyat miskin untuk mengenyam pendidikan. Padahal, dalam UUD 1945 sudahdijelaskan bahwa setiap warganegara berhak mendapat pendidikan. Berbagai upaya yang dilakukan pemerintah untuk mewujudkan hal itu sampai saat ini belum bisa tercapai. Masih banyak warga miskin yang terpaksa tidak sekolah karena tingginya biayapendidikan. Bahkan, pendidikansudah dijadikan sebagai barangdagangan yang mempunyai harga tinggi. Komersialisasi pendidikan inilah yang menjadi akar permasalahan orang miskin tidak bisa sekolah.
Komersialisasi atau industrialisasi pendidikan ini membuat kebutuhan pendidikan tidak bisa lagi dipenuhi oleh semua strata sosial dalam masyarakat. Hanya masyarakat yang beruang saja yang mampu mengenyam pendidikan berkualitas baik. Untuk masuk sekolah pertama kali saja sudah diharuskan membayar biaya pendaftaran yang tidak sedikit. Belum lagi adanya uangpangkal yang selama ini menjadi pangkal persoalan rakyat miskin. Bagi mereka yang mampu, semua persoalan itu tidak menjadi masalah yangberarti, karena masih bisa diatasi. Bahkan, mereka beranimembayar berapa pun uang pangkal yang diminta sekolah, asalkan mereka bisa diterima di sekolah-sekolah yang bonafide.
Sementara bagaimana dengan nasib masyarakat miskin? Mereka terpaksa harus duduk di bangku-bangku reyot di sekolah dengan kualitas rendah, bahkan yang lebih parah lagi, mereka terpaksa tidak sekolah karena di sekolah reyot pun mereka tidak mampu membayar. Bagaimana mereka bisa pintar jika keadaanya masih seperti itu? Padahal, kemiskinanlah yang menjadi masalah terbesarbangsa ini, sehingga tidak maju-maju.
Seharusnya, yang berhak diprioritaskan untuk memperoleh pendidikan layak dengan sarana dan prasarana modern adalah rakyat miskin. Jika rakyat miskin berhasil mendapatkan pendidikan yang layak, maka bisa dipastikan mereka akan bisa keluar dari kungkungan kemiskinan. Dengan begitu, cita-cita bangsa untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan menciptakan kesejahteraan umum akan terwujud.
Bangsa ini harus mengintrospeksi diri untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia. Seluruhelemen negara, baik pemerintah maupun masyarakat harus bersinergi untuk memikirkan dan mencari jalan keluar untuk persoalan yang selama ini kita hadapi. Revolusi pendidikan menjadi harga mati, jika kita menginginkan perbaikan untuk bangsa ini.
Berbagai upaya pemerintah belum sanggup mengangkat sektor pendidikan sebagai salah satu pilar bagi kemajuan bangsa. Berbagai program yang diupayakan pemerintah, seperti keringanan biaya bagi siswa yang kurang mampu atau beasiswa bagi siswa yangberprestasi, belum juga menjadi titik temu. Faktanya, masih banyak anak-anak miskin yang belum mampu sekolah, sehingga terpaksa “berkeliaran” di jalan. Latar belakang yang tidak jelas ini lama-kelamaan akan membuat bangsa ini hancur. Bagaimana tidak, mereka mengemis di jalan-jalan, berjuang panas-panasan di bawah terik matahari. Belum lagi jika mereka putus asa, akhirnya terpaksa melakukan tindakan-tindakan negatif, misalnya mencuri.
Jika ini tidak segera dicari jalan keluarnya, maka yang terjadi adalah akan tumbuh generasi yang merusak bangsa. Oleh karena itu, dunia pendidikan dianggap belum mampu melahirkan sumber daya manusia yang handal, kreatif, inovatif, solutif, dan berkarakter kuat. Kebanyakangenerasi yang ada sekarang inihidup hanya untuk bersenang-senang dan bergaya hidup hedonistis.
Pendidikan Hak Semua Warga Negara
Melihat realitas yang memprihatinkan tersebut, pemerintah tidak tinggal diam. Pemerintah telah menganggarkan dana 20 persen dari APBN dan APBD untuk meningkatkan mutu pendidikan, sebagaimana yang tertera dalam UUD 1945 pasal 31 ayat 3. Berbagai program lain pun sudah diluncurkan pemerintah, seperti memberikan BOS, subsidi buku, meningkatkan kualitas guru melalui program stratifikasi guru dan dosen, serta keringanan biaya bagi siswa yang kurang mampu atau beasiswa bagi siswa yang berprestasi.
Selain upaya yang dilakukan pemerintah, berbagai pihak pun banyak yang mengusahakan pendidikan gratis. Namun, lembaga-lembaga yang sengaja didirikanuntuk menampung anak-anak dari keluarga menengah ke bawah itu tidak bertahan lama.Keterbatasan dana menjadi penyebab utama tidak berkembangnya lembaga tersebut.
Pendidikan merupakan salah satu pilar bagi kemajuan bangsa. Oleh karena itu, seluruh warga negara harus mengenyam pendidikan denganbaik. Berbagai upaya pemerintah harus didikung olehsemua pihak yang memang menginginkan perbaikan pendidikan.
Sebagaimana yang termaktub dalam UUD 45, pendidikan merupakan hak setiap warga negara. Dalam hal ini pemerintah bertanggung jawab penuh untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas. Selama ini upaya-upaya yang dilakukan pemerintah berjalan kurang maksimal. Oleh karena itu perlumemaksimalkan semua upaya tersebut secara revolusioner.
Pemerintah perlu melakukan pemerataan pendidikan di daerah terpencil dan lebih memprioritaskan rakyat miskin.Dengan begitu, rakyat akan sama mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Selain itu, pemerintah sebaiknya membantu membiayai lembaga-lembaga yang mengkhususkan pendidikan untuk rakyat menengah ke bawah. Dengan harapan, akan lebih banyak lembaga-lembaga yang bisa mengadvokasi anak-anak yangtidak mampu untuk melanjutkan sekolah.
Selain peran pemerintah dan lembaga-lembaga peduli pendidikan, peran masyarakat juga sangat diperlukan. Masyarakat yang mampu dan hidup berkecukupan harus mulai peduli dengan pendidikan kita. Jika mereka mau memberikan atau menyalurkansebagian hartanya kepada lembaga-lembaga pendidikan yang fokus untuk rakyat miskin, maka kemungkinan untuk memperbaiki pendidikan negeri ini akan semakin terbuka. Butuh kerjasama dan saling sinergi dari berbagai pihak, baik pemerintah maupunrakyat. Dengan demikian, perbaikan kualitas pendidikan nasional akan meningkat. Wallahu a’lam bi al-shawab.
Ngetes Keperawanan, Remaja 17 Tahun Diperkosa
Seorang pria di KotaBitung, Sulawesi Utara, tega menggauli anak kandungnya sendiri. Parahnya, tindakan cabul itu sudah dilakukan selama enam tahun terakhir.
Peristiwa terbongkar karena pelaku, ML (45), warga Kelurahan Motto, Kecamatan Lembeh Seletan, Kota Bitung, cemburu setelah mendapati anaknya sedang berpacaran. Pelaku kemudian memukuli korban hingga aksi kekerasan itu diketahui tetangga.
Mereka kemudian dibawa ke kantor kelurahan. Dari situ, korban secara spontan membongkar tindakan bejat orangtuanya. Diantar tetangga, korban melapor ke petugas Polsek Bitung Selatan.Polisi bergerak cepat dan menangkap pelaku di rumahnya.
Kepada petugas, ML mengaku telah memperkosa anaknya sejak duduk di bangku SMP. Pelaku beralasan hendak mengetes keperawanan putri angkatnya itu.
“Saya sudah menjaganya sejakusia satu tahun tujuh bulan. Awalnya, saya curiga dia sudahtidak perawan lagi,” ungkap ML di Mapolsek Bitung Selatan,Senin (14/5/2012).
Dari hubungan terlarang itu, korban sempat dua kali hamil, namun digugurkan menggunakan obat.
Sementara itu, korban mengaku diperkosa kali pertama pada 2006 atau saat masih duduk di kelas 6 SD. Pemerkosaan terjadi di rumah saat sepi. Ibu korban menderita tunarungu sehinggapelaku bebas melancarkan aksinya.
Setiap kali berhubungan, korban sering diperlakukan tak manusiawi, yakni dipukul dan diancam dibunuh.
“Kejadian tidak bias dihitung lagi, tapi sekarang rasanya sudah lepas beban sejak bapakditangkap,” ungkap korban.
Kapolsek Bitung Selatan AKP Suntaka mengungkapkan ML terancam dijerat pasal berlapis, yakni Pasal 81 dan 82Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak serta Pasal 294 KUHP dengan hukuman penjara 16 tahun.
Inilah Daftar Pemain yang Dijual City
Meski meraih juara Premier League 2011-2012 dengan skuad yangada saat ini ternyata tak membuat Manchester City menahan sebagian pemainnya. Pasalnya, klub sangat butuh dana segar untuk meningkatkan skuad pelatih Roberto Mancini.
The Citizens diperkirakan akanmenjual sebagian pasukannya pada bursa transfer musim panas nanti yang ditotal-total semuanya mencapai 200 juta pounds. Besarnya dana yang terkumpul nanti akan dipersiapakan untuk membeli amunisi baru skuad The Citizens.
Dalam daftar pemain yang diperkirakan akan masuk bursa transfer City terdapat nama, Carlos Tevez dan Mario Balotelli. Keduanya memang sangat gencar dikabarkan akan dijual oleh manajemen klub, terkait perilakunya yang merugikan klub.
Namun, ironisnya kedua pemaintersebut yang kerap menjadi penentu kemenangan City dalam beberapa laga terakhirnya dan membantu klub dalam meraih gelar juara liga sejak terakhir kalinya pada tahun 1969.
Berikut daftar nama yang diperkirakan akan dijual oleh City berikut harga jualnya menurut The Observer seperti dilansir Tribal-Football , Senin (14/5/2012).
1. Carloz Tevez - 47 juta pounds
2. Edin Dzeko - 27 juta pounds
3. Mario Balotelli - 24 juta pounds
4. Alexander Kolarov -19 juta pounds
5. Kolo Toure - 16 juta pounds
6. Adam Johnson - 7 Juta pounds
7. Stefan Savic - 6 Juta Pound
8. David Pizarro - free transfers
Senin, 12 Maret 2012
Si Pencari Daun Jati,Kini Jadi Bos Tambang Pasir
KERJA keras dan tekad yang besar menjadi kunci utama untuk berhasil di dalam hidup ini. Itulah kata-kata yang pertama kali meluncur dari H Misbachul Munir (45). Bermula dari seorang pencari daun jati,asal Desa Cobanjoyo, Kecamatan Kejayan KabupatenPasuruan, yang kini menjadi seorang pengusaha pertambangan pasir di Pasuruan.
Pria paruh baya ini, mengawali kisah hidupnya dengan membantu kedua orangtuanyamencari nafkah. Guna menyokong perekonomian keluarganya yang kurang mampu, dia mencari daun jati di hutan untuk di jual ke pasarpada pagi hari.
Setelah mencari daun jati, Munir muda kembali bekerja sebagai buruh penambang pasir di desanya yang memangterkenal sebagai daerah penghasil pasir di Pasuruan.
Kerja keras sebagai pencari daun jati dan penambang pasir, memang hanya cukup untuk makan sehari-hari. Namun, Misbach Munir berusaha bekerja ekstra agar dapat mempunyai tabungan. Dia rela menyimpan sebagian kecil upahnya, melainkan dia titipkan kepada sang majikan pemilik tambang pasir.
Tidak terasa, upah yang dititipkan kepada sang majikansaat itu mencapai Rp1 juta. Pada saat itu, jumlah tersebutterhitung sangat besar bagi seorang anak desa seperti Misbachul Munir.
Hasil tabungannya itu, kemudian dia tukar dengan sepetak tanah di dekat rumah.Dengan adanya lahan pribadi itu, Munir mulai peruntungannya dengan menambang pasir di tanahnya sendiri. Saat itu, Munir yang buta teknologi hanya mengandalkan cara tradisional,yakni menggunakan pacul dan sekop.
Alhasil, Munir harus bekerja keras mulai pagi hingga sore agar pasir yang dihasilkan banyak. Dengan kegigihannya tersebut, penghasilan Munir terus meningkat.
Munir yang kala itu sudah cukup maju, tidak melupakan prinsip menabungnya. Sebagianhasil penjualan pasirnya kembali dia sisihkan untuk membeli sepetak tanah lagi. Agar produksi pasirnya semakin banyak, Munir menyewa supir alat berat ( back hoe ) yang bekerja di pertambangan pasir milik majikannya, agar bisa menggalipasir di lahan miliknya.
Agar tidak merugikan majikannya, para pekerja tersebut dia sewa pada sore-malam hari selepas jam kerja mereka. Di bantu alat berat ( back hoe ) maka kapasitas produksi pasir milik Munir semakin bertambah banyak.
Mencari Pasar
Nama Munir kala itu belumlah terkenal di kalangan para pembeli pasir. Karenanya, demi memuaskan dan menggaet pelanggan dirinya mengisi pasirsatu truk dengan ukuran lebihbanyak sedikt dari ukuran biasanya.
Selain itu, Munir juga benar-benar memperhatikan kualitas dari pasir yang dijualnya. Karenanya para pembeli pasir pun puas dengan produksi pasir milik Munir, karena kandungan tanah dan batunyayang lebih sedikit.
Keuntungan dari penjualan pasir yang meningkat, kembali disisihkan untuk membeli lahan pertambangan lagi, begitu seterusnya hingga sekarang. Saat ini, lahan milik majikannyadulu pun sekarang telah dibeli oleh H Munir.
Meskipun telah memiliki lahan pertambangan pasir yang cukup luas, kira-kira 30 hektare (ha) lebih, namun untuk masalah perijinan dan reklamasi, tidak lepas dari perhatiannya. Menurut Munir, dirinya bisa seperti sekarang ini karena mendapat berkah dan rejeki dari alam, maka sudah seharusnya dia menjagadan mensyukuri apa yang telah didapatnya dari alam itu.
Biarpun telah sukses dan menikmati hasil dari jerih payahnya selama ini, Munir tidak melupakan warga desanya yang kurang mampu, bahkan sekarang ini warga di desanya pekerjaanya tergantung dari pertambanganmilik Munir. Banyak warga desayang menjadi supir truk dan operator alat berat ( back hoe ).
Memang, Munir tidak melakukan penambangan dengan cara tradisional guna meminimalisir risiko kecelakaan.Dengan menamai tambang pasir miliknya dengan nama CV Pasir Mas, Munir memang bersyukur menemukan emas didalam tanah yang berupa pasiryang dapat mengangkat perekonomiannya selama ini.
Mantan Pengamen yang Sukses Raup Rp400 Juta/Bulan
SEBUAH bisnis tak melulu harus berupa barang. Kala kita punya kemampuan ditambah kemauan, serta semangat pantang menyerah, maka setiap orang niscaya akan berhasil. Contoh saja Siswadi, dengan semangat pantang menyerahnya, dia memutuskanuntuk membuka sebuah usaha.
Bukan usaha di bidang barang yang dia tekuni, namun jasa. Tidak perlu jasa yang besar, dia hanya memanfaatkan kemampuanya yang diserap lewat pendidikan dan pengalamannya. Bersama lima orang temannya, Siswadi memutuskan untuk membuka bisnis bimbingan belajar (bimbel) di daerah Matraman, Jakarta.
Namun, dalam menjalankan sebuah usaha, memang tak semudah yang dibayangkan. Belum apa-apa, Siswadi dan temannya harus berjibaku dengan masalah tempat usaha bimbel. Karena memang tidak mempunyai modal, Siswadi tidak dapat mendirikan bimbel tersebut di tempat yang terbilang strategis. Mereka pun harus puas membuka bimbel di rumah kosong milik temannya di Jalan Kayu manis 6 nomor 33.
Kala dibuka pun, Siswadi hanyapunya modal Rp300 ribu untuk perlengkapan bimbel. Oleh sebab itu, bimbelnya pun hanya mempunyai 98 murid SD menjadi siswa pertama.
"Alhamdulillah semuanya lulus masuk Sekolah Menengah Pertama (SMP), bahkan dua di antaranya berhasil ikut pertukaran pelajar ke Jerman," kenang Siswadi kala berbincang dengan okezone , beberapa waktu lalu.
Modal yang minim membuat Siswadi tidak dapat melakukansurvei mendalam pada kurikulum atau materi yang ada. Saat itu, dia hanya menggunakan insting dan pengalamannya dalam memilih pelajaran. Nampaknya Dewi Fortuna memang berpihak padanya, insting Siswadi kala itu memang jitu. Sebab, banyaksiswa mengatakan materi yangdiberikan di bimbel Solusi banyak keluar saat ujian."Yang menurut saya sulit (pelajarannya) dan kompleks kita ajarkan ke siswa," jelasnya.
Setelah bisnis kian membesar, Siswadi tak lagi menggunakan insting untuk membantu belajar anak didiknya. Bimbelnya kini mempekerjakan tenaga kurikulum, guna menyusun soal dan materi pelajaran yang dia seleksi dengan ketat.
Alhasil, dengan kurikulum matang dan kesaksian dari para anak didiknya, membuat nama Solusi makin menggaung di dunia bimbel. Hal itulah yang membuatnya berani memberikan jaminan, kualitas pembelajaran di Solusi terstandar dengan baik.
Dengan menerapkan konsep belajar team best learning plus, setiap kelas hanya berisi 10 siswa, modul pembelajaran yang ringkas dan mudah dimengerti, mengiringi langkah Siswadi menjadi penerima penghargaan penyelenggara bimbel terbaik versi majalah bisnis nasional pada 2009 silam.Penghargaan itu, didapatkan lantaran peningkatan jumlah siswa yang mencapai 100 persen tiap semester.
Perjuangan
Kesuksesan yang didapat Siswadi dan kelima temannya, bukan jatuh dari langit. Bimbel Solusi pun bukan warisan siapa-siapa. Laki-laki kelahiran Purwodadi, Jawa Tengah, ini membutuhkan waktu panjang untuk membangun bimbel Solusi.
Siswadi lahir dan besar dari keluarga yang serba kekurangan. Siswadi kecil, yangditinggal pergi oleh ayahnya pada usia lima tahun, sudah memiliki semangat besar untukmengubah nasib. Sewaktu duduk di kelas III SD, didorong rasa penasarannya, Siswadi merantau ke Semarang mencari ayahnya.
Karena masih kecil, Siswadi belum punya perhitungan. Hasilnya, Siswadi kecil pun terlantar karena tidak punya kerabat di Semarang. Untuk hidup, Siswadi pun menjadi pengamen demi mendapatkan sesuap nasi di kota itu. Sembari mengamen, Siswadi tetap mencari kabar tentang sang ayah. Seiring waktu berjalan, Siswadi merasa mencari ayahnya adalah sia-sia, karenanya dia memutuskan untuk menyerah dan kembali ke Purwodadi.
Selang beberapa lama di rumah, entah angin apa yang mendorong Siswadi memutuskan kembali merantau.Kali ini tujuannya bukan lagi Semarang, namun ke ibu kota. Lagi-lagi, Siswadi pergi hanya berbekal tekad. Pergi dengan kereta api, Siswadi pun diturunkan dengan tidak hormat karena tidak membayar. "Karena tak mempunyai tiket, saya diturunkan di sawah," kenang Siswadi.
Semangatnya memang patut diacungi jempol. Tekat Siswadi yang sudah bulat membuatnyarela berjalan kaki menyusuri sawah hingga bertemu denganterminal bus. Sampai di terminal Pulo Gadung, Jakarta,Siswadi juga tidak punya kerabat. Pengalaman hidupnya di Semarang, nampaknya telahmemberikan semangat tersendiri bagi dia. "Agar tetaphidup, saya mengamen lagi di terminal itu," jelas Siswadi.
Siswadi pun malang melintang hidup di jalanan. Ini membuatnya dapat berkenalandengan banyak orang. Dia bahkan pernah ikut demonstrasi di 1998, namun bukan untuk memperjuangkan hak-hak seperti yang dilakukan kebanyakan orang, Siswadi berdemo demi mendapatkan sebungkus nasi.
Dari keikutsertaanya pada demonstrasi tersebut, Siswadi diajak bergabung oleh kelompok mahasiswa proreformasi bernama Forum Kota (Forkot). Siswadi akhirnyamenetap di markas Forkot itu sembari mengenyam pendidikanyang kala itu belum diselesaikannya dengan kejar Paket A, setara dengan SD. Setelah lulus, Siswadi menyadari pentingnya pendidikan, dia pun meninggalkan Forkot dan melanjutkan pendidikan ke jenjang selanjutnya.
Guna mengenyam pendidikan, Siswadi mengandalkan kemampuan mengamennya untuk mencari sesuap nasi danjuga biaya sekolah. Meski begitu, faktor fisik terkadang menyebabkan dia meminta uang secara paksa kepada murid lain. "Untungnya kepala sekolah berbaik hati dan membebaskan saya dari SPP," kata dia.
Setelah lulus SMP, Siswadi yangingin merasakan manisnya masa SMU, mulai berfikir lebih maju. Dia tidak ingin lagi mengandalkan kemampuan mengamennya. Maka dari itu dia pun mencari pekerjaan. Beruntung sebuah penyewaan game memakai jasanya. Gaji dari penyewaan game itu akhirnya dipakai membiayai sekolah.
Siswadi pun mulai intens mengikuti organisasi, dia mulai aktif di kegiatan nasyid SMU, bahkan sempat menjadi juara antar-SMU. "Sejak itu, saya mulai tenang dan tidak nakal," ungkap Siswadi.
Lulus SMU, Siswadi sempat merasakan perguruan tinggi diUniversitas Bhayangkara. Namun, dia memutuskan bekerja sebagai tenaga marketing di sebuah lembaga bimbel. Di tempat bimbel itulah Siswadi belajar seluk-beluk usaha bimbel. Siswadi pun akhirnya memutuskan untuk membuka bimbel sendiri bersama teman-temannya.
Semua Orang Berhak Mendapat Pendidikan
Berkaca dari masa lalunya, tekad Siswadi membentuk bimbel tidak difokuskan untuk mencari penghasilan. Siswadi ingin membuktikan bahwa bimbel itu hak semua murid dari semua status sosial. Itulahsebabnya, dalam mengelola bimbel, Siswadi berusaha menjangkau murid SD dan SMP dari kalangan menengah bawah dengan menawarkan biaya murah.
Namun, seiring berlalunya waktu, Bimbel Solusi pun tumbuh menjadi Bimbel besar. Jika pada awalnya Solusi menargetkan anak didik dari kalangan menengah ke bawah,saat ini siswa yang bergabung juga banyak dari kalangan atas.
"Dulu memang fokus anak kurang mampu, tapi sekarang kami juga menjangkau kalangan kelas atas," kata Siswadi.
Meski begitu, dia tetap mematok tarif murah Rp500 ribu per semester. "Itu menjadidaya tarik tersendiri, sebab walaupun murah namun materiyang diajarkan berkualitas," klaim Siswadi.
Dengan tarif yang terjangkau, siswa juga akan mendapatkan modul belajar, buku pengembangan, serta tempat belajar ber-AC. Siswa juga memperoleh training atau seminar motivasi yang berlangsung di tengah atau akhir semester. Naiknya pamorSolusi, membuat Siswadi beranimewaralabakan Bimbel Solusi-nya. "Kami ingin mengembangkan bimbel solusi ke seluruh Indonesia," katanya.
Saat ini, bimbel solusi telah memiliki 45 cabang dan mitra diseluruh Indonesia dengan totalmurid sekira 7.000 orang. Karyawan yang bekerja di Solusi telah mencapai kurang lebih 500 orang.
Dengan jumlah tersebut, omzetyang diperoleh setiap bulan bisa mencapai Rp400 juta. Namun demikian, sukses yang diraih Siswadi tidak menghilangkan kenangan saat dia harus berjuang menjadi pengamen di jalanan. Sebagai bentuk perhatiannya, Siswadi memberikan kursus gratis bagianak yatim piatu. "Di balik kesuksesan pasti ada hak orang lain," kata dia.
Setelah sukses lewat bimbelnya, barulah Siswadi menyempatkan diri meneruskan kuliahnya yang tertunda akibat biaya, namun kali ini dia menerukskan di universitas yang berbeda.
Sofyan Basir: Siapa Bilang BRI Itu Hanya Bank Desa?
Bank Rakyat Indonesia (BRI) dulu kerap diidentikkan denganbank pasar dan desa. Tetapi kini, bank pelat merah itu telah berubah menjadi bank modern yang siap bersaing dengan bank umum lain.
Lain dulu, lain sekarang. Mungkin asumsi itu bisa dilekatkan kepada BRI. Maklum,saat ini kiprah BRI jauh berbeda dengan beberapa tahun lalu. Dulu banyak orang beranggapan BRI adalah bank pasar, karena lebih banyak beroperasi di sekitar pasar tradisional.
Pasar adalah tempat di mana masyarakat banyak berinteraksi di pasar-pasar tradisional. Tetapi itu dulu, kini BRI telah menjadi bank modernyang siap bersaing dengan bank umum lain.
Kendati begitu BRI tetap mempertahankan visi bisnisnyayang memberikan perhatian besar pada masyarakat desa. Perubahan wajah BRI tersebut tidak terlepas dari peran Sofyan Basir sebagai direktur utama.
Setidaknya, di bawah kepemimpinannya, BRI memperlihatkan kinerja yang terus meningkat. Hal ini misalnya terlihat pada pendapatan dan laba BRI. Padatriwulan III-2011, BRI mencatatkan laba sebesar Rp10,43 triliun.
Angka ini lebih besar 56,69 persen dibanding periode yangsama di 2010. Sejak 2010, BRI memang telah membukukan laba di atas Rp10 triliun. Bedanya, angka lebih dari Rp10triliun dibukukan pada kuartal keempat (pada 2010 BRI berhasil membukukan keuntungan sebesar Rp11,472 triliun). Kenaikan sebesar itu tentunya tidak bisa diraih dengan kinerja yang biasa-biasa saja.
Apalagi, saat ini persaingan dunia perbankan semakin ketat. Kenaikan laba BRI yang cukup besar tersebut banyak membuat analis dan bankir yang kagum. Semua perkembangan dalam beberapatahun terakhir tidak lepas dariracikan strategi yang dilakukan Sofyan. Menurut Sofyan, pencapaian laba yang mencapai lebih dari Rp10 triliunpada 2010 bukan hanya menyebabkan kaget pihak luar.
Pada awalnya, internal perusahaan pun tidak semua memprediksikan hal tersebut. Semua ini karena BRI mampu memaksimalkan semua potensi yang mereka miliki. Dalam laporan triwulan III yang dipublikasikan pada Septemberlalu, BRI mempunyai net interest income (NII) sebesar Rp26,2 triliun dan net interest margin (NIM) 10,24 persen, sedangkan capital adequacy ratio -nya (CAR) sebesar 14,84 persen dan return on equity ( ROE) 39,86 persen.
Sehatnya BRI juga terlihat jelas pada besaran kredit bermasalah ( non-performing loans /NPL) gross yang sebesar 3,34 persen dan NPL net sebesar 0,75 persen. Hal ini tentunya jauh di bawah batasan NPL yang ditentukan BI yang sebesar lima persen.
Pertumbuhan BRI juga diperlihatkan dari jumlah cabang dan kantor yang dimiliki. Pada beberapa tahun lalu, BRI mungkin lebih dikenal dengan bank rakyat karena memiliki jaringan kantor hinggapedesaan. Namun, kala itu kantor yang mereka yang adadi pedesaan itu tidak online .
Kini semua berubah, dan tabungan BRI pun tidak hanya identik dengan simpedes. Pada 2005, hanya sekira 1.100-1.200kantor yang online di perkotaan dan itu pun tidak semua. Namun sejak akhir 2010, jumlah kantor BRI lebih dari 7.000 lokasi. Sementara itu, tahun ini Sofyan menargetkan BRI bisa menjadi bank yang mempunyai kantor terbanyak.
"Kalau dulu di daerah Rasuna Said (Kuningan, Jakarta-red) tidak ada kantor BRI, sekarangsudah ada beberapa," kata Sofyan.
Menurut Sofyan, ada perbedaan antara karakter nasabah desa dengan nasabahperkotaan. Hal yang utama adalah besaran kredit yang diterima oleh masing-masing nasabah. Nasabah perdesaan umumnya mengambil kredit-kredit kecil, mikro kecil. Mereka mengambil kredit sesuai nilai yang menurut mereka cukup. Bahkan, banyakyang enggan diberikan jumlah pinjaman lebih besar dari bank.
"Saya tanyakan nasabah yang mengambil KUR Rp4 juta dan menyarankannya untuk mengambil KUR yang lebih tinggi, misalkan Rp8 juta, tapi mereka menolak. Menurut dia, jangka waktu 12 bulan saja sudah cukup lama, dan apabila mereka memiliki uang untuk menutup dalam 10 bulan dia sudah merasa untung. Sederhana sekali, karena lebih dari itu mungkin dia tidak terlalu mikir, begitulah di pedesaan," kata Sofyan.
Untuk masyarakat kota, dia membutuhkan kemudahan dan jawabannya adalah teknologi. BRI support penuh dengan fitur produk, ATM ditempatkandi mana pun. "Jadi, kami mencoba untuk memfasilitasi orang kota dengan gaya dan kebutuhan mereka. Di desa dengan gaya orang desa dan kebutuhan orang desa, jadi spesifik betul," tambah Sofyan.
Sofyan berusaha terus memberikan perbaikan pelayanan kepada nasabah. Terbukti, pelayanan yang ditawarkan BRI pun semakin memanjakan nasabah dalam tahun-tahun terakhir. Hal ini misalnya terlihat pada layanan ATM BRI yang memperlihatkan perkembangan signifikan antara 2005 dibanding 2010. ATM dulu hanya 30 fitur dan sekarang menjadi 124 fitur. Halini tentunya sudah sama dengan bank swasta, mereka fiturnya berkisar 100-120.
Ke depan, Sofyan berkeinginanagar BRI menjadi National Payment Agent terbesar, sehingga hampir seluruh masyarakat Indonesia bermutasi di BRI. Dia melihat potensinya sangat besar. Di daerah, BRI menjadi pemenang,hampir di semua daerah-daerah terpencil BRI masuk. Sofyan tidak hanya puasa dengan keunggulan di perdesaan. Dengan moto"melayani setulus hati dari desa sampai kota".
Artinya, BRI tidak akan hanya berhenti di desa, tetapi juga masyarakat kota sesuai dengan kondisi BRI sekarang yang sudah menjadi bank modern yang siap melayani siapa saja tanpa sekat apakahorang desa atau kota.
Sosok Motivator Karyawan
Di bawah kepemimpinan SofyanBasyir, pelan tapi pasti BRI berubah menjadi bank terbaik dan terbesar di Indonesia. Bahkan selama enam tahun masa jabatannya, pria kelahiran Bogor, 2 Mei 1958 inidinilai telah berhasil meningkatkan kinerja BRI ke arah yang lebih baik.
Kepiawaian Sofyan dalam memimpin BRI bukanlah isapan jempol semata. Faktanya, selama dia menjabat, beberapakeputusan strategis yang dibuatnya terbukti mampu membawa dampak baik bagi perkembangan BRI.
Salah satunya Sofyan mampu mengubah imej BRI sebagai bank desa menjadi bank terkemuka yang sejajar dengan bankbank besar lain. Kendati demikian, menurut Sofyan kesuksesan yang diraihBRI hingga saat ini bukan semata-mata atas inisiatif dan kerja keras dirinya maupun jajaran direksi saja, melainkan juga berkat kinerja yang baik dari segenap karyawan BRI.
"Tidak benar kalau semua pencapaian baik ini ada hanya karena dirut atau direksinya, sebab yang terjun langsung ituadalah karyawan. Jadi, merekajuga sangat berperan dalam kesuksesan ini," katanya pada SINDO .
Dia menilai peran dirinya sebagai pemimpin hanya sebagai penyemangat dan pemotivasi karyawan saja untuk dapat bekerja lebih baikdan giat. "Oleh karena itu, saya selalu melibatkan karyawan BRI dalam segala kegiatan dan gerakan kemajuan," ungkapnya.
Dengan konsep itulah, hingga saat ini Sofyan mengaku selalurukun dengan serikat pekerja BRI dari Sabang sampai Merauke. Menurut dia, memangharus demikianlah konsep yangdilakukan dalam membangun semangat kerja karyawan, sehingga secara tidak langsunghubungan harmonis atasan danbawahan akan tetap terjaga.
"Saya merasa bersyukur hingga kini komunikasi saya dengan serikat pekerja BRI bisa terjalin dengan baik," ujarnya.
Walaupun demikian, ketegasan Sofyan sebagai pemimpin juga tampak jelas terlihat dari upayanya untuk meyakinkan karyawan dalam menjaga aset yang dimiliki bersama. Misalnya dalam menghadapi masalah fraud, tanpa ampun dia akan langsung memecat dan menindak tegas karyawan yang dinilai melakukan kesalahan. Sebaliknya, dia jugaakan mengapresiasi setiap karyawan yang telah bekerja dengan baik dan maksimal.
Ditinggal Pacar, Olla Ramlan Kesepian
Olla Ramlan merasa kesepian setelah ditinggal kekasihnya, Aufar Hutapea pergi umrah. Meski begitu, Olla senang karena Aufar tetap melihatnya di televisi.
"Lumayan kesepian, biasanya ada yang perhatiin, agak kesepian. Tapi dia dari sana tetap nonton aku kalau lagi tampil dari TV," ungkapnya ketika ditemui di Studio RCTI, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Senin (12/3/2012).
Olla memang tidak menemani Aufar pergi ke Tanah Suci. Pasalnya, mantan istri Alex Tian ini sedang sibuk menjalani proses menghapus tato di tubuhnya.
"Semua sudah dilaser, pigmen dimatikan, nanti prosesnya limaminggu akan hilang. Pokoknya semuanya sudah dihapus," tandasnya.
Karena permintaan sang pacaryang dikenal sangat fanatik dengan agama, Olla merasa senang bisa mewujudkan permintaannya demi menunjukan keseriusan cintanya.
"Jadi gatal-gatal banget. Aku ikhlas, enggak ada beban. Karena tato kan di Islam enggak boleh. Bukan cuma permintaan dari calon saya, ini sebagai pembuktian kalau seseorang mau lebih baik dan serius banget kenapa tidak. Pokoknya semua ada hikmahnya, walaupun disuruh Aufar pokoknya bisa lebih baik," tandasnya.
Langganan:
Postingan (Atom)